February 4, 2026

Sejarah Tradisi Beli Baju Baru saat Lebaran: Simbol Kesucian atau Gaya Hidup?

  • March 30, 2025
  • 3 min read
Sejarah Tradisi Beli Baju Baru saat Lebaran: Simbol Kesucian atau Gaya Hidup?

Jakarta, Gatranews.id – Tradisi membeli dan mengenakan baju baru saat Lebaran telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Idulfitri di Indonesia. Kebiasaan ini tidak hanya mencerminkan aspek budaya, tetapi juga memiliki akar sejarah yang panjang serta nilai-nilai spiritual yang mendalam.

Jejak awal tradisi ini dapat ditelusuri hingga abad ke-16, tepatnya pada masa Kesultanan Banten sekitar tahun 1596. Pada masa itu, masyarakat sibuk menyiapkan baju baru untuk Lebaran. Namun, kemampuan untuk memiliki pakaian baru saat Lebaran terbatas pada kalangan kerajaan dan bangsawan, sementara rakyat biasa biasanya menjahit pakaian mereka sendiri atau memperbaiki pakaian lama agar layak dikenakan saat hari raya.

Tradisi serupa juga ditemukan di Kerajaan Mataram Islam (Yogyakarta), di mana masyarakat berupaya mendapatkan pakaian baru menjelang Idulfitri, baik dengan membeli maupun menjahit sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa praktik ini telah menyebar seiring dengan perkembangan agama Islam dan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia pada masa itu.

Pengaruh Kolonial Belanda

Pada awal abad ke-20, tradisi ini mendapatkan dimensi baru. Snouck Hurgronje, seorang penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial Belanda, mencatat bahwa tradisi membeli pakaian baru saat Lebaran mirip dengan kebiasaan di Eropa saat merayakan tahun baru. Ia juga mengamati bahwa menjelang Lebaran, terjadi peningkatan pengeluaran besar-besaran di Batavia untuk pembelian pakaian, makanan, dan petasan, yang menunjukkan bahwa tradisi ini telah mendorong aktivitas ekonomi, terutama di pusat-pusat perdagangan.

Makna Spiritual dan Sosial

Dalam konteks spiritual, tradisi mengenakan pakaian baru saat Lebaran dapat dimaknai sebagai simbol kesucian dan pembaruan diri setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.

Agus Aris Munandar, Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, menyatakan bahwa pakaian yang digunakan saat perayaan Idulfitri adalah tanda dari manusia yang suci dan bersih dari dosa setelah menjalankan puasa Ramadan, atau dapat dikatakan sebagai simbol umat Islam yang kembali fitri.

Sementara itu, Imam Prasodjo, seorang sosiolog dari Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa tradisi membeli baju baru saat Lebaran awalnya dilakukan oleh kelompok masyarakat kurang mampu yang ingin tampil lebih baik setelah mampu membeli baju baru minimal sekali dalam setahun. Dalam konteks perayaan agama, mengganti baju lama dengan yang baru dipadukan dengan perayaan Idulfitri sebagai simbol lahir kembali dalam keadaan bersih.

Perkembangan Tradisi di Era Modern

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan sosial dan ekonomi. Pada era modern, membeli baju baru saat Lebaran tidak lagi terbatas pada kalangan tertentu. Peningkatan aksesibilitas terhadap produk tekstil dan berkembangnya industri fashion membuat tradisi ini semakin meluas di berbagai lapisan masyarakat.

Meskipun demikian, esensi dari tradisi ini tetap sama, yaitu sebagai bentuk perayaan, rasa syukur, dan simbolisasi dari awal yang baru setelah menjalani ibadah puasa.

Dengan demikian, tradisi membeli dan mengenakan baju baru saat Lebaran bukan hanya sekadar kebiasaan tanpa makna, tetapi merupakan bagian integral dari identitas budaya dan spiritual masyarakat Indonesia yang terus dilestarikan hingga kini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *